Air Bukan Zat Gizi untuk Menguruskan Badan

Jakarta, Kompas - Air adalah makronutrien terpenting dalam tubuh. Namun, air tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menguruskan badan atau menggantikan peran zat gizi lain. Kelebihan atau kekurangan air bisa membahayakan tubuh.

”Konsumsi air secukupnya, jangan berlebih, tetapi jangan sampai dehidrasi,” kata dokter ahli gastroenterologi-hepatologi yang juga Manajer Ventura Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam seusai peresmian Kelompok Kerja Hidrasi Indonesia di Jakarta, Rabu (10/10).

Mengganti sarapan hanya dengan minum air atau minum air berlebihan setelah bangun tidur tidak dianjurkan. Pagi hari cukup minum air 2-4 gelas (0,5-1 liter) untuk merangsang buang air besar. Kelebihan air justru mendorong isi lambung naik ke kerongkongan. Konsumsi air berlebih juga akan membuat jantung bekerja keras memompa darah. Ini bisa memicu terjadinya gagal jantung, terutama bagi mereka yang jantungnya lemah.

Stavros A Kavouras dari Laboratorium Kinerja Manusia, Universitas Arkansas, Amerika Serikat, mengatakan, kelebihan air bisa memicu keracunan air (hiponatremia), yaitu kandungan elekrolit dalam tubuh terlalu rendah. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat badan lemas.

Konsumsi air berlebih bisa memicu psikogenik polidipsia, yaitu gangguan kejiwaan yang membuat seseorang selalu merasa haus dan mulut kering hingga ingin terus minum. Pada mereka yang mengalami gangguan ini bisanya tidak ditemui tanda-tanda keracunan air.

Kenyataannya, sebagian besar orang justru kurang minum. Ketua Kelompok Kerja Hidrasi Indonesia yang juga dokter gizi medik FKUI, Saptawati Bardosono, menyatakan, 46 persen remaja dan orang dewasa di Indonesia mengalami dehidrasi ringan. Banyak orang sering mengabaikan rasa haus. Setiap hari, pria perlu 2,5 liter dan perempuan 2 liter air.

”Turunnya daya konsentrasi dan suasana hati yang berubah negatif merupakan tanda dehidrasi,” kata Saptawati.

Ivan Tack, peneliti dari Departemen Fisiologi Klinik, Universitas Paul Sabatier, Toulouse, Perancis, menjelaskan, minum air diperlukan untuk menjamin metabolisme tubuh, memastikan kenyamanan tubuh sehingga suasana hati dan konsentrasi terjaga, serta melindungi ginjal dan saluran kemih.

Pola makan Barat yang tinggi protein dan kaya garam serta kurang minum membuat jumlah penderita batu ginjal meningkat. Pola makan ini membuat mudah terbentuk kristal dalam urine, yang bisa berkembang menjadi batu ginjal. ”Batu ginjal akan menjadi persoalan besar di Asia,” ujar Ivan memprediksi. (MZW)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Asep Candra